Imajiku


1.
Dewi Tari

            Karinti begitu dipuja. Terlalu tinggi hingga paradoks, ia dijauhi. Rasa kagum menjelmakan rasa rendah diri. Menjelmalah  pungguk merindukan rembulan. Karinti adalah rembulan bagi siapa saja yang memandang. Ia menimbulkan debar acak pada bumi yang disinggahi, seperti sinyal kedatangan UFO. Debar acak, statis, diam, bisu, beku, fakum, dan hampa.
            Ia benar-benar sendiri. Berat sekali. Lalu, apa bedanya ia dengan si buruk rupa, atau si penderita kusta yang dikucilkan dari beradaban manusia biasa? Di tempat itu ia memang bukan manusia biasa. Paling tidak bagi pemuda-pemuda sebayanya. Bedanya jelas. Status sosial. Tata nilai. Sopan santun. Sungkan-menyungkan. Apapun itu, hasilnya tetap sama. Sama-sama dijauhi. Diisolasi.
            Kini dan hari-hari sebelumnya ia sendiri saja menikmati keindahan taman. Mondar-mandir, lalu mempercantik diri. Dan, ia memang benar-benar cantik. Kebiasaan masa kecilnya kembali lagi. Melepas penat dengan berlari-lari, berjalan, berlenggok, dan sesekali berputar-putar di taman.   Lama-lama ia menjelma jadi angsa yang elegan berjalan dengan angguk-angguk ritmis. Sesekali ia menjelma jadi camar yang gagah seakan merengkuh samudra di bawahnya. Kesempatan lain ia menjelma menjadi sekawanan burung dara yang lagi ngindang – berputar-putar beberapa kali dengan indahnya. Atau terkadang seperti sekelompok burung gagak yang sedang mandi di sungai, dengan menenggelamkan kepala mereka secara bergiliran dengan ketukan yang teratur. Gerakan-gerakan ritmis yang seharusnya tak hanya memukau  para talin umbak[1] dan penjaga taman yang selalu setia.
Ini harus dientas setinggi-tingginya.
            Kejenuhan yang ia rasakan kini adalah tumpukan kejenuhan empat tahun. Ia menggeluti sesuatu di luar hasrat hati. Ia adalah penari kecil yang penuh talenta, terpaksa menekuni ilmu-ilmu hukum sebagai wujud bakti untuk sang rama. Sekuat daya ia mencoba menikmati materi-materi kuliah hukum, namun ia hanya merasa terhukum. Ia merasa jadi seorang narapidana dalam sel bawah tanah yang pengap.
Menari. Ia kini menari lagi. Menari untuk mengusir kesepian yang mendera setelah kepergian sang rama untuk selamanya. Sementara kakak satu-satunya harus menyelesaikan pendidikan di sekolah tari Yogyakarta; sebagai bukti diri jadi seorang anak lelaki. Menjadi pemberontak ketika sang rama memaksa kuliah di fakultas hukum.
 Ya, Karinti kembali menemukan kelenturan baru tubuhnya yang sempat hilang. Ia menyukai setiap gerakan-gerakannya. Ia banyak terbantu dengan menari. Menari adalah buminya. Menari adalah curhatnya. Menari adalah awan bagi air sebelum titik tercipta dan menjelma hujan. Menari adalah mentari bagi rembulan; memberi kehangatan tanpa rengkuhan. Bahkan, menari adalah napasnya. Ia bisa tersenyum lepas. Ia bisa melirik leluasa. Ia bisa terbang ke angkasa, lalu menapak di bumi dengan elegan.
            Jadilah ia sang dewi tari. Penari yang menari dengan cinta. Penari yang menarikan keindahan. Terentaslah gerakan keindahan itu dari panggung-panggung gelap, dari lorong-lorong birahi, menuju citra keindahan yang dinikmati dengan keindahan. Terentaslah ia bersama sang penari yang semakin dipuja ketika suatu hari  harus disuguhkan di depan banyak orang dengan nampan keindahan. Kasta tari membubung tinggi. Tari menjadi sakral.
☺☺☺


[1] Inang,pengasuh

Tidak ada komentar:

Posting Komentar